Program Sosekraf Forum Ekraf Balikpapan Warnai Keceriaan Anak Klandasan Ulu Lewat Ajang “Ekraf Mewarnai 2025”

Balikpapan, ONBC Indonesia.com – Ruang belajar masyarakat di Klandasan Ulu kembali dipenuhi warna dan tawa anak-anak. Melalui kegiatan “Ekraf Mewarnai 2025”, Forum Ekonomi Kreatif (Ekraf) Balikpapan menghadirkan pendekatan pembelajaran berbasis kreativitas yang menyasar anak-anak dari Keluarga Harapan melalui Lomba Mewarnai Ekraf 2025 di Gedung Parkir Klandasan, Rabu (24/12) lalu.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang mewarnai, tetapi juga ruang interaksi sosial yang mempertemukan anak, orang tua, komunitas, dan pemerintah dalam satu tujuan bersama: menumbuhkan semangat belajar melalui kreativitas.

Sekretaris Lurah Klandasan Ulu, Yayu Indah, menilai pendekatan ekonomi kreatif mampu menjadi jembatan efektif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Yayu juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar kegiatan berbasis sosial–kreatif ini dapat berjalan berkelanjutan. Ia menyebutkan perlunya sinergi antara pelaku Ekraf, instansi pemerintah, komunitas, hingga dukungan CSR perusahaan untuk memperkuat fasilitas dan program ruang belajar masyarakat.

“Ekraf punya peran besar, bukan hanya di sektor ekonomi, tapi juga sosial. Ketika kreativitas dipadukan dengan kepedulian, dampaknya bisa sangat luas bagi anak-anak dan keluarga,” katanya.

Dampak positif kegiatan ini mulai terlihat. Berdasarkan pengamatan pihak kelurahan, anak-anak yang rutin mengikuti pembelajaran di ruang belajar masyarakat menunjukkan peningkatan motivasi sekolah dan perkembangan akademik yang lebih baik. Lebih dari itu, kegiatan kreatif juga membangun kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi anak.

Tak hanya anak-anak, peran orang tua juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan program. Dalam kegiatan Ekraf Mewarnai 2025, orang tua turut terlibat mendampingi anak, menciptakan ikatan emosional dan dukungan belajar yang lebih kuat di lingkungan keluarga.

“Supporting system dari keluarga sangat menentukan. Ketika orang tua terlibat, anak-anak merasa lebih diperhatikan dan termotivasi,” tambah Yayu.

Melalui kegiatan sosial berbasis ekonomi kreatif ini, Forum Ekraf Balikpapan bersama masyarakat Klandasan Ulu berharap ruang belajar tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bersama yang membangun karakter, kreativitas, dan masa depan generasi muda.

Sinergi Strategis OBU Wilayah VII dan Forum Ekraf Balikpapan, Membangun UMKM dan Koperasi Menuju Ekonomi Berdaya Saing

Balikpapan, ONBC Indonesia.com –  Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan melaksanakan koordinasi strategis bersama Forum Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Balikpapan, dalam rangka membangun tata kelola organisasi yang tidak hanya berlandaskan integritas, tetapi juga menjulang tinggi sebagai simbol profesionalisme, daya saing, dan kebermanfaatan bersama.

Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin mengatakan koordinasi ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah langkah monumental dalam merancang masa depan ekosistem usaha yang lebih progresif dan berkelanjutan.

“Penguatan kemandirian ekonomi lokal, harapannya sinergi dengan Forum Ekraf Balikpapan mampu membuka cakrawala baru bagi UMKM binaan dan koperasi, khususnya dalam aspek promosi, penguatan merek, serta perluasan jejaring usaha di tingkat regional maupun nasional,” kata Ferdinan.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Harian Ekraf Balikpapan, Krishna Galih didampingi oleh Babinsa Koramil selaku pembina keamanan sosial dan pembangunan, mengatakan pihaknya siap mendukung sinergi tersebut dan siap menjadikan UMKM dan koperasi Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapa sebagai lokomotif penggerak ekonomi yang tangguh, modern, dan mampu bersaing di tengah arus globalisasi yang semakin dinamis.

“Kuatnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan unsur pertahanan wilayah akan  menjadi penggerak ekonomi yang tangguh, modern, dan mampu bersaing. Tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada penciptaan nilai sosial, pemberdayaan masyarakat,” tegas Galih sapaan akrab Krishna Galih yang juga menjabat sebagai CEO Onix Media Grup.

Melalui dialog yang konstruktif dan penuh semangat kolaborasi, seluruh pihak menyatukan pandangan, gagasan, dan komitmen dalam menyusun perencanaan strategis jangka panjang yang. Melalui koordinasi strategis ini, Otoritas Bandar Udara Wilayah VII menegaskan tekadnya untuk tidak hanya menjadi pengelola layanan kebandarudaraan, tetapi juga menjadi penggerak utama ekonomi kerakyatan yang berpihak pada kesejahteraan bersama.

Kehadiran Babinsa Koramil sebagai mitra pembinaan keamanan dan pembangunan menjadi simbol nyata bahwa pembangunan ekonomi yang kuat harus berjalan seiring dengan stabilitas sosial dan ketertiban wilayah.

Dukung Ekosistem Industri Kreatif, BPC PHRI Balikpapan Jajaki Sinergi dengan Forum Ekraf Balikpapan

Balikpapan, ONBC Indonesia.com – Merangkul potensi seniman lokal, Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan siap mendukung keberlangsungan ekosistem industri kreatif di Kota Balikpapan.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris BPC PHRI Balikpapan, Derry Indrawardhana, saat berdiskusi di Makanja Coffee and Roastery bersama Pengurus Forum Ekonomi Kreatif (Ekraf) Balikpapan, beberapa waktu lalu.

“Membangun Kota Balikpapan harus dilakukan secara bersama-sama, bukan hanya sepihak. PHRI Balikpapan mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan sebagai kota MICE, termasuk mempercantik tampilan arsitektur, ornamen, dan dekorasi hotel. Dengan melibatkan sejumlah seniman lokal, seperti menampilkan karya seni para pelaku seni di Balikpapan, kerja sama ini sangat mungkin untuk dilakukan,” ujar Derry.

Menanggapi wacana tersebut, Ketua Harian Forum Ekraf Balikpapan Krishna Galih, atau yang akrab disapa Galih, menyambut baik upaya tersebut. Ia mengatakan bahwa hubungan yang harmonis antara pelaku seni dan industri jasa lainnya merupakan solusi untuk mengembangkan potensi lokal. Selama ini, Balikpapan memiliki banyak talenta yang kompeten. Bahkan, tidak sedikit warganya yang telah memamerkan karya di ruang-ruang publik, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

“Sinergi adalah kata kunci untuk membangun ekosistem industri kreatif yang berkelanjutan. Selama ini, Forum Ekraf Balikpapan terus mendukung para seniman, khususnya seniman lokal, agar terus berkarya dan berdedikasi demi kemajuan kota kelahiran mereka,” tutup Galih.

Forum Ekraf Balikpapan Angkat Bicara soal Kasus Amsal Sitepu, Nilai Ide Kreatif Harus Dihargai

Balikpapan, ONBC Indonesia.com – Forum Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Balikpapan angkat bicara terkait kasus yang menimpa pegiat kreatif Amsal Sitepu dalam pengadaan video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Forum Ekraf menegaskan bahwa ide dan gagasan dalam industri kreatif merupakan produk bernilai yang harus dihargai secara profesional dan tidak bisa disamakan dengan pengadaan barang biasa.

Ketua Harian Forum Ekonomi Kreatif Kota Balikpapan, Krishna Galih MP, menilai bahwa dalam melihat persoalan tersebut, aspek hukum tidak bisa dilepaskan dari interpretasi yang digunakan. “Pada dasarnya hukum itu berangkat dari asumsi, tergantung dari pasal mana yang digunakan dan bagaimana menafsirkannya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam industri kreatif, ide dan gagasan merupakan produk utama yang memiliki nilai ekonomi, meskipun tidak selalu terlihat secara fisik.“Bagi pelaku industri kreatif, ide dan gagasan itu adalah produk. Memang tidak kasat mata, tapi tetap bernilai dan harus dibayar. Bahkan, nilainya bisa sangat mahal,” jelasnya.

Menurutnya, proses produksi karya kreatif juga melibatkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari tahap perencanaan hingga eksekusi teknis. “Apalagi jika sudah menggunakan editing, dubbing, hingga mikrofon sebagai peralatan penunjang, itu semua bagian dari proses produksi yang memang harus dihargai,” tambahnya.

Lebih lanjut, Krishna menekankan bahwa regulasi terkait jasa kreatif sebenarnya telah tersedia, sehingga pelaku industri perlu lebih berhati-hati sejak awal menjalin kerja sama. “Regulasinya sebenarnya sudah ada. Jadi yang perlu diperhatikan adalah kewaspadaan di awal, sebelum melakukan kesepakatan dengan vendor, apalagi dengan pihak pemerintah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kesesuaian antara penawaran dan kesepakatan awal, serta adanya dokumen resmi sebagai dasar kerja sama. “Harus dilihat kembali apakah penawarannya sesuai dengan yang disepakati sejak awal. Selain itu, harus ada surat perintah kerja yang menguatkan hal tersebut,” tegasnya.

Krishna turut berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah terhadap sektor industri kreatif yang dinilai memiliki potensi besar sebagai bagian dari aktivitas ekonomi.

“Sebagai pelaku industri kreatif, tentu kami berharap ada perhatian yang lebih dari pemerintah. Karena ini sudah masuk dalam ranah industri, yang berarti juga merupakan aktivitas bisnis,” katanya.

Ia menambahkan, meskipun karya seni sering kali bersifat subjektif dalam penilaian, bukan berarti tidak memiliki nilai ekonomi yang jelas.

“Memang seniman menghasilkan karya yang nilainya relatif, tergantung pada sudut pandang. Tapi bukan berarti ide dan gagasan itu tidak bisa dihitung atau tidak layak dihargai secara anggaran,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sosialisasi yang lebih luas agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. “Ke depan memang dibutuhkan sosialisasi yang lebih masif, agar semua pihak memiliki pemahaman yang sama. Forum Ekraf juga seharusnya bisa berperan untuk menaungi hal-hal seperti ini, terutama ketika terjadi kesalahpahaman,” tambahnya.

Sementara itu, sebelumnya Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, turut angkat bicara terkait kasus tersebut. Ia menegaskan bahwa penentuan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dalam jasa kreatif tidak dapat disamakan dengan pengadaan barang pada umumnya.

“Pengadaan jasa kreatif memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan pengadaan barang. Kewajaran penilaian Harga Perkiraan Sendiri (HPS) jasa kreatif harus dilakukan secara objektif dan berbasis pada pemahaman terhadap industri kreatif,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pihaknya menghormati proses hukum yang tengah berjalan dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah saat ini tengah menyusun pedoman khusus terkait jasa kreatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar ke depan tidak terjadi persoalan serupa.